Teknologi Gearbox
Berbicara soal seamless shift gearbox
(SSG) yang terpasang pada RC212V-RC213V, proyek gearbox baru ini
dimulai ketika Honda gulung tikar dari balap F1 lima tahun yang lalu dan
menarik seluruh engineer-nya dari Honda F1 ke HRC. Dipimpin oleh Shuhei
Nakamoto yang juga cabut dari Honda F1 karena krisis finasial global
pada saat itu, maka dimulailah proyek SSG tersebut. Itu juga atas
masukkan test rider Honda “Tadayuki Okada” setelah melakukan pengetesan
RC212V di Mugello tahun 2008 silam.
“Chassisnya
RC212V sudah cukup baik. Hanya gearbox-nya yang perlu dikembangkan
lagi”, kurang lebih itu feedback Okada kepada HRC lima tahun yang lalu
setelah mencicipi mesin V4 800cc milik Honda. Tak bisa dipungkiri,
memang ada beberapa sentuhan tangan-tangan engineer Honda F1 dalam
mengembangkan SSG ini di Jepang. Menyuntikkan teknologi F1 dan
mengembangkannya sedemikian rupa agar sesuai dengan regulasi MotoGP,
dimana setiap pabrikan tidak diperbolehkan untuk menggunakan dual-clutch
transmission alias gearbox DCT seperti yang banyak digunakan pada mobil
balap.
Ketika mulai diperkenalkan pada awal 2011
silam pada tes MotoGP Sepang, ternyata banyak menuai protes dari
pabrikan lainnya karena Stoner tampil sangat cepat ketika menggeber
RC212V. Honda dituduh mengaplikasikan teknologi gearbox DCT pada mesin
RC212V. Gerah dengan tudingan tersebut, maka atas permintaan FIM
dibedahlah jeroan gearbox itu dan Honda memperlihatkan teknologi itu
kepada kepada Tim lainnya.
“HRC tentunya tak akan menggunakan
perangkat ilegal di MotoGP”, kata Shuhei Nakamoto dua tahun lalu. Belum
puas dengan jawaban Nakamoto, maka berkatalah salah satu engineer HRC.
“Teknologi serupa sudah lebih dulu diaplikasikan pada mobil balap
IndyCar Honda”, ungkap Shinya Matsumoto yang telah mendaftarkan
rancangan SSG RCV di kantor paten Jepang.
Honda RC213V (2013) mengadopsi mesin V4
DOHC 4-valve berkapasitas 1000cc dengan berpendingin liquid-cooled dan
dilengkapi seamless-shift gearbox. Mesin V4 prototipe Honda ini mampu
memuntahkan output tenaga maksimum lebih dari 228 HP atau sekitar 170
kW. Horsepower RC213V ini terbilang lebih kecil daripada Yamaha M1 dan
juga beda banget dengan Honda RC211V (2006) yang dapat mendistribusikan
lebih dari 240 HP (176,5 KW).
Makanya Honda RC211V (specs 2006) ini
sangat kencang ketika digeber di trek lurus dibandingkan dengan RC213V
yang hanya mendistribusikan sekitar 228 HP. Berkat penggunaa mesin Honda
V5 990cc, Yamaha M1 (versi lama) selalu keteteran saat duel di trek
lurus dengan RC211V.
Itu
merupakan ciri khas lama generasi pertama Honda RCV (2003-2006) yang
kerap menang di trek lurus jika musuhnya adalah M1. Sekarang
kebalikannya, tidak sama seperti dulu karena rancangan mesinnya pun
sudah banyak dirombak, berkat suntikkan teknologi SSG.
Sungguh berbeda dengan RC213V yang hanya
mampu mendistribusikan sekitar 228 horsepower. Tapi disisi lain, SSG
Honda justru mampu memperlihatkan fungsi gearbox tanpa jeda ini meskipun
hanya dengan 228 HP. Nah makanya YZR-M1 sekarang lagi ikut2tan mengembangkan SSG tapi sayang Dorna melarang pengembangan motor selama motogp berlangsung,itu semua ya pasti honda dibalik semua ini.
Di Formula One (F1) teknologi SSG sudah digunakan sejak lama, mereka menggunakan dua botol pengungkit rasio pada mainshaft (input) dan counter shaft (output).
Di motor mainshaft adalah poros dudukan rasio yang berhubungan dengan
kruk-as. Counter poros kedua yang ujungnya nongol di samping persneling.
Itu lho dudukan sproket yang tersambung dengan rantai ke gir roda
belakang.
Cara kerja botol pertama memindahkan
duluan gigi ke percepatan berikutnya, sehingga daya putar tak berhenti.
Jadi konsepnya setiap kali terjadi pemindahan gigi tidak terjadi
pengurangan power, karena gigi rasio tetap berputar layaknya tidak
terjadi perpindahan gigi. System SSG ini dikendalikan dengan system
digital jadi semua berjalan smooth tanpa merepotkan rider dan motor
tetap stabil.
SSG ini berbeda dengan dual clutch dan
quickshifter. Namanya juga dual, ada dua kopling yang bekerja saat
mengubah persneling dan meneruskan powernya. Kedua kopling bergantian
bekerja pada gigi ganjil dan genap. Sedang ‘quick’ semata memaksa
perpindahan gigi tetap berlangsung tanpa perlu off throttle.
Untuk close ratio racing yang dipakai motor, quick itu tak ada gunanya
dikarenakan rapatnya gigi rasio, tanpa tarik tuas koplingpun dan tutup
gas bisa terjadi pindah gigi. Problem utama saat jeda, tungkai penggerak
pada botol menggeser rasio sering ada problem dan hal ini yang diatasi
SSG.
Keistimewaan dari teknologi SSG tidak
akan ada gejala wheelie (ngakat ban depan), hal dini teratasi karena
gigi rasionya terus berbutar stabil dan modulnya saling mendekap. Jadi,
ppower besat yang sering muncul dapat direduksi menjadi halus. Wheelie
ini sering merugikan pembalap karena saat roda depan terangkat otomatis
pembalap harus segera mengimbangi, nah saat proses mengimbangi inilah
akan mengurangi kecepatan dan waktu banyak terbuang.
Maka keuntungan SSG sampai 6 persen
dibanding konvensional. Lihat saja, hasil tiga seri ke belakang di
MotoGP. Honda unggul dengan prosentasi waktu kisaran 6 persen.
Namun jangan diabaikan bahwa factor
suspense sangat berpengaruh terhadap kestabilan motor saat ditikungan
dengan speed tinggi. Saat ini Honda juga bekerjasama dengan perusahaan
specialist Suspensi yaitu Ohlins.
Senjata Pemungkas Tim Repsol Honda
Masih ada sebuah senjata pemungkas yang disembunyikan oleh Tim Repsol Honda.Tuas
Kecil di Stang Kiri Motor Tim Repsol Honda sampai saat ini masih
menjadi misteri tersendiri yang belum ada penjelasan resmi dari Tim
Repsol Honda. Apakah ini tuas “Nos” atau tuas pemindahan gigi yang
terhubung dengan system SSG?
Musim 2013, Marc Marquez datang. Rookie
asal Spanyol ini punyan gaya balap sendiri. Cendrung menggelantung di
motornya. Dia agresif, cerdas, bertalenta dan haus kemenangan. Masih
muda, skill tinggi, talenta tinggi berpadu dengan teknologi Honda di
RC213V, makin sempurna. Di musim perdananya di kelas premier, dia 10
kali naik podium dari 11 seri yang sudah digelar. Dari 10 podium, 5 di
antaranya podium pertama.
Kemudian ramai diperbincangkan, SSG bukan
satu-satunya senjata yang ada di RC213V. Ada ‘senjata‘ lain yang
ditanam Honda di RC213V. Hasil investigasi para media yang terlibat
langsung di MotoGP, ada ‘senjata’ tak biasa yang ada di bawah stang
sebelah kiri RC213V tunggangan Marc Marquez. Karena itu tak umum di
motor-motor Honda. Mahluk itu sebuah tuas kecil yang diletakkan tepat di
bawah stang sebelah kiri. Awak media pun menanyakan hal itu namun belum
ada jawaban resmi dari Honda. Makanya Valentino Rossi yang pernah jadi
rider Honda dan jadi The Doctor nya Yamaha yang dijadikan narasumbernya.
Menurut Rossi, dulu Mick Doohan juga
pakai mahluk macam itu. Tapi beda fungsi. Di motor Doohan, tuas itu
difungsikan sebagai pengganti tuas rem balakang yang ada di kaki saat
Doohan cedera kaki kanan yang tak memungkinkan dia menginjak tuas rem.
Kalau sekarang, sepertinya tuas itu difungsikan sebagai pengganti tuas
transmisi yang ada di kaki. Jadi ada saat tertentu kaki rider nggak
perlu sibuk cungkal-cungkil dan dorong-dorong tuas transmisi saat masuk
atau keluar tikungan yang bisa ganggu kestabilan. Tapi itu masih teori
versi Rossi, belum ada paparan detil dari Honda tentang fungsi dan cara
kerja tuas kecil yang diumpetin di bawah stang sebelah kiri itu.
Kalau
dilihat dari fungsi di motor Doohan, bisa jadi itu juga difungsikan di
motor Marquez karena gaya balap yang gelantungan itu. Apa lagi Marquez
demen banget ‘rebahan’ sambil nempelin sikunya di aspal. Jadi saat
kondisi seperti itu, kestabilan tak terganggu oleh gerakan kaki
memainkan tuas transmisi atau rem, cukup tekan tuas itu saja.
Kembali lagi, kalau dilihat dari fungsi
rem belakang saat balapan, rem belakang hampir tak pernah terpakai. Rem
depan yang jadi andalan utama. Bisa jadi, tuas itu terhubung dengan
gearbox RC213V. Sama seperti teknologi yang dual clutch transmission di
moge Honda Integra, NC700S, NC700X, Crosstourer dan VFR1200F. Dengan
dual clutch transmission, rider nggak perlu menekan atau mencongkel tuas
transmisi, cukup tekan tombol yang ada di stang sebelah kiri. Tak
banyak waktu terbuang, tak banyak jedah antara gigi satu dengan gigi
selanjutnya. Lebih simple, lebih cepat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar